Perayaan Cap Go Meh: Puncak Festival Imlek di Indonesia

Apa Itu Cap Go Meh?
Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkien: "Cap Go" berarti lima belas dan "Meh" berarti malam. Secara harfiah, Cap Go Meh adalah "malam kelima belas". Perayaan ini jatuh pada tanggal 15 bulan pertama kalender lunar Tionghoa, tepat dua minggu setelah malam Tahun Baru Imlek, dan secara resmi menandai akhir dari rangkaian perayaan selama 15 hari.
Dalam kalender Mandarin, festival ini dikenal sebagai Yuan Xiao Jie (元宵节), atau Festival Lampion. Di Tiongkok, perayaan ini sudah tercatat sejak masa Dinasti Han Barat (206 SM hingga 9 M), menjadikannya salah satu festival tertua dalam sejarah Tionghoa. Untuk mengetahui tanggal tepat Cap Go Meh setiap tahunnya, kamu bisa cek Kalender Hoki yang memuat kalender lunar lengkap.
Tradisi Cap Go Meh
Festival Lampion (Yuan Xiao Jie)
Lampion adalah simbol utama perayaan ini. Ratusan bahkan ribuan lampion merah digantung di jalanan, kelenteng, dan rumah-rumah. Tradisi ini melambangkan cahaya yang menerangi kegelapan, dan secara spiritual dipercaya memandu roh leluhur kembali ke alam sana setelah mengunjungi keluarga mereka selama perayaan Imlek.
Di beberapa daerah, lampion yang sudah ditulisi permohonan atau nama pemiliknya kemudian dilepaskan ke langit sebagai cara menyampaikan doa. Di Indonesia, melepas lampion terbang kini diatur demi keselamatan, tetapi menggantung lampion di rumah dan kelenteng tetap menjadi tradisi yang umum dilakukan.
Tang Yuan, Bubur Manis Penyatu Keluarga
Makanan khas Cap Go Meh adalah tang yuan (汤圆), bola-bola ketan yang diisi wijen hitam atau kacang tanah, dan disajikan dalam kuah jahe manis yang hangat. Bentuknya yang bulat melambangkan bulan purnama dan kesatuan keluarga. Di beberapa dialek, tang yuan disebut juga "yuan xiao", yang sesuai dengan nama festivitasnya.
Di Indonesia, tang yuan sering dijual di pasar malam selama perayaan Cap Go Meh, dan mudah dibuat di rumah dengan tepung ketan yang tersedia di supermarket lokal.
Tatung dan Arak-Arakan
Salah satu tradisi paling unik dalam perayaan Cap Go Meh adalah ritual tatung. Tatung adalah sebutan untuk orang yang dalam kondisi trans religius, dipercaya mengundang roh dewa atau leluhur masuk ke dalam tubuh mereka. Mereka melakukan berbagai aksi yang secara fisik tampak berbahaya sebagai bukti perlindungan dewa.
Tradisi ini paling megah di Singkawang, Kalimantan Barat, yang dijuluki "Kota Seribu Kelenteng". Setiap tahun, ribuan wisatawan lokal dan mancanegara datang ke Singkawang untuk menyaksikan pawai tatung yang melibatkan ratusan peserta. Festival ini masuk dalam kalender pariwisata nasional Indonesia.
Cap Go Meh di Berbagai Kota Indonesia
Setiap kota merayakan Cap Go Meh dengan caranya sendiri.
Singkawang, Kalimantan Barat: Pawai tatung yang paling besar dan meriah di Asia Tenggara. Wajib dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup.
Glodok, Jakarta: Kawasan pecinan tertua di Jakarta ini menjadi pusat perayaan dengan pertunjukan barongsai, pesta kembang api, dan bazar kuliner Tionghoa yang berlangsung sepanjang malam.
Semarang: Kota ini menggelar Pawai Budaya Tionghoa di sepanjang Jalan Gajah Mada yang menampilkan barongsai, liong, dan berbagai pertunjukan seni.
Surabaya dan Medan: Komunitas Tionghoa yang besar di kedua kota ini menggelar perayaan di kelenteng-kelenteng bersejarah, disertai doa bersama dan pembagian berkah.
Makna Spiritual Cap Go Meh
Secara spiritual, Cap Go Meh adalah malam penutup yang sakral. Keluarga berkumpul untuk sembahyang di kelenteng, membakar dupa, dan mempersembahkan sesajen kepada leluhur dan para dewa. Ini adalah momen terakhir dalam siklus Tahun Baru di mana hubungan antara dunia manusia dan dunia spiritual dianggap paling terbuka.
Untuk perlengkapan sembahyang Cap Go Meh seperti dupa, lampion, dan sesajen tradisional, kamu bisa menemukan berbagai pilihan di HokiTemple.
Cap Go Meh: Jembatan Budaya
Di Indonesia, Cap Go Meh telah berkembang menjadi festival lintas budaya. Di banyak kota, perayaan ini melibatkan warga non-Tionghoa sebagai penonton bahkan peserta aktif. Ini mencerminkan semangat kebhinekaan Indonesia, di mana kekayaan budaya dari berbagai suku dan etnis menjadi milik bersama.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Mengapa Cap Go Meh dirayakan pada malam ke-15 dan bukan pada malam Tahun Baru itu sendiri? Kalender lunar Tionghoa didasarkan pada siklus bulan. Tanggal 15 bulan pertama adalah saat bulan purnama pertama di tahun baru, yang secara simbolis melambangkan cahaya dan kesempurnaan. Malam purnama dianggap waktu terbaik untuk menutup siklus perayaan dan memulai kehidupan normal kembali dengan penuh harapan.
Apakah tatung berbahaya? Bagaimana mereka tidak terluka? Dari sudut pandang tradisi, para praktisi tatung meyakini bahwa mereka terlindungi oleh roh dewa yang memasuki tubuh mereka, sehingga tidak merasakan rasa sakit. Dari perspektif ilmiah, kondisi trans yang dalam dapat menurunkan persepsi nyeri secara signifikan. Para tatung selalu didampingi oleh asisten terlatih yang memastikan keselamatan mereka selama ritual berlangsung.
Apakah Cap Go Meh dirayakan dengan cara yang sama di semua komunitas Tionghoa di Indonesia? Tidak sepenuhnya. Cara perayaan bisa berbeda tergantung asal daerah komunitas tersebut, apakah Hokkien, Hakka, Teochew, atau Kanton, serta kota tempat mereka tinggal. Namun elemen inti seperti tang yuan, lampion, dan sembahyang di kelenteng hampir selalu ada dalam setiap perayaan.


