Semua Artikel

Perayaan Vesak Waisak Umat Buddha Indonesia: Sejarah & Tradisi

15 Maret 2026
Tim Redaksi Budaya Tionghoa
Perayaan Vesak Waisak Umat Buddha Indonesia: Sejarah & Tradisi

Apa Itu Vesak (Waisak)?

Vesak atau Waisak adalah hari suci terpenting bagi umat Buddha di seluruh dunia. Dalam tradisi Pali yang digunakan Buddhisme Theravada, hari ini disebut "Vesak"; dalam tradisi Sanskrit (Mahayana dan Vajrayana), disebut "Vaisakha." Di Indonesia, nama yang umum digunakan adalah "Waisak."

Hari ini memperingati tiga peristiwa paling sakral dalam kehidupan Siddhartha Gautama — yang dalam tradisi Buddha Theravada disebut Tri Suci Waisak:

  1. Kelahiran Pangeran Siddhartha di Taman Lumbini (sekarang Nepal), sekitar 623 SM
  2. Pencapaian Pencerahan Sempurna (Bodhi) di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya (India), sekitar 588 SM
  3. Parinibbana (wafat dan pelepasan dari siklus kelahiran kembali) di Kusinara (India), sekitar 543 SM

Ketiga peristiwa ini dipercaya terjadi pada hari yang sama: bulan purnama di bulan Waisak (biasanya Mei). Di Indonesia, Waisak telah ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak tahun 1983.

Sejarah Waisak di Indonesia

Era Kerajaan Nusantara: Pusat Buddhisme Dunia

Jejak Buddhisme di Nusantara sudah ada sejak abad ke-2 hingga ke-3 Masehi. Biksu peziarah Tiongkok I Tsing singgah di Sriwijaya pada tahun 671 M dan mencatat adanya lebih dari 1.000 biksu yang belajar di sana. Ia bahkan merekomendasikan Sriwijaya sebagai tempat belajar bahasa Sansekerta sebelum pergi ke India.

Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14) dan Wangsa Sailendra (abad ke-8-9) menjadikan Nusantara sebagai salah satu pusat Buddhisme terbesar di Asia Tenggara. Pada masa inilah Candi Borobudur dibangun, diperkirakan sekitar tahun 750-850 M, sebagai mandala tiga dimensi yang merepresentasikan kosmologi Buddha Mahayana.

Borobudur: Warisan yang Hampir Terlupakan

Setelah runtuhnya Wangsa Sailendra, Borobudur perlahan terlupakan dan tertimbun lahar serta vegetasi. Baru pada 1814, Thomas Stamford Raffles (saat itu Gubernur Jenderal Jawa di bawah Inggris) memerintahkan penyelidikan situs tersebut berdasarkan laporan penduduk setempat. Restorasi besar-besaran dilakukan pada era 1970-an dengan dukungan UNESCO, dan pada 1991 Borobudur resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Hari Libur Nasional

Waisak secara resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia melalui Keputusan Presiden pada 1983. Perayaan nasional terpusat di Candi Borobudur dan menjadi salah satu acara keagamaan terbesar di Asia Tenggara, menarik puluhan ribu umat dari seluruh Indonesia dan mancanegara setiap tahunnya.

Tradisi Waisak di Indonesia

Pradaksina: Prosesi Mendut-Pawon-Borobudur

Salah satu tradisi paling ikonik dalam Waisak Indonesia adalah prosesi pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi candi searah jarum jam sebagai bentuk penghormatan. Prosesi dimulai dari Candi Mendut (4 km sebelah timur Borobudur), dilanjutkan ke Candi Pawon, dan berakhir di Candi Borobudur. Total perjalanan sekitar 3 kilometer yang ditempuh ribuan umat sambil membawa lilin menyala.

Pradaksina bukan sekadar berjalan; ini adalah meditasi gerak yang mengingatkan umat bahwa setiap langkah dalam hidup bisa dilakukan dengan penuh kesadaran.

Pelepasan Lampion

Pada puncak perayaan di malam hari, ratusan hingga ribuan lampion diterbangkan ke langit. Setiap lampion membawa pesan doa dan harapan yang ditulis oleh umat. Secara simbolis, lampion yang membubung ke langit melambangkan pelepasan kemelekatan, ego, dan penderitaan menuju pencerahan.

Pindapata

Pindapata adalah tradisi kuno di mana para bhikkhu (biksu) berjalan bertelanjang kaki melewati pemukiman sambil membawa mangkuk untuk menerima dana makanan dari umat. Tradisi ini melestarikan cara hidup para biksu sejak zaman Buddha: bergantung pada kemurahan hati masyarakat, sekaligus memberi kesempatan bagi umat untuk berdana (berderma) dan mengumpulkan kebajikan (parami).

Meditasi Massal

Di berbagai vihara besar di Indonesia, ribuan umat bermeditasi bersama pada malam Waisak. Meditasi kolektif ini menciptakan energi spiritual yang sangat kuat dan menjadi pengalaman transformatif bagi banyak peserta, termasuk yang bukan beragama Buddha namun tertarik dengan praktik meditasi.

Tempat Perayaan Waisak di Indonesia

  1. Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah: Pusat perayaan Waisak nasional, dengan prosesi pradaksina dan pelepasan lampion yang spektakuler. Tiket masuk dan akses prosesi biasanya memerlukan pendaftaran khusus.
  2. Candi Mendut, Magelang: Titik awal prosesi pradaksina. Di dalam candi terdapat tiga arca Buddha Sakyamuni, Avalokitesvara, dan Vajrapani yang menjadi objek pemujaan utama.
  3. Maha Vihara Maitreya, Medan: Salah satu vihara terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan patung Buddha raksasa yang menjadi ikon kota Medan.
  4. Vihara Ekayana Arama, Jakarta Barat: Pusat perayaan Waisak di ibu kota, dengan berbagai kegiatan dharma, pelimpahan jasa, dan meditasi bersama.
  5. Sanggar Agung (Vihara Amurva Bhumi), Surabaya: Terkenal dengan patung Dewi Kwan Im (Guanyin) raksasa setinggi 20 meter yang menghadap laut, menjadi landmark spiritual komunitas Tionghoa Surabaya.

Pesan Universal Waisak untuk Semua Orang

Meski Waisak adalah hari suci umat Buddha, nilai-nilai yang diajarkan bersifat universal dan relevan bagi semua orang:

  • Metta (cinta kasih): Kasih sayang tanpa syarat kepada semua makhluk hidup, tanpa membedakan latar belakang
  • Karuna (welas asih): Empati mendalam terhadap penderitaan orang lain, yang mendorong tindakan nyata untuk meringankan beban sesama
  • Mudita (simpati): Kebahagiaan yang tulus atas kebahagiaan orang lain, bebas dari rasa iri atau dengki
  • Upekkha (keseimbangan batin): Ketenangan yang tidak mudah terguncang oleh pujian, celaan, keberuntungan, atau kemalangan

Nilai-nilai ini sangat selaras dengan semangat gotong royong dan toleransi yang menjadi fondasi masyarakat Indonesia. Waisak bukan hanya milik umat Buddha, melainkan ajakan bagi seluruh masyarakat untuk merefleksikan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Untuk panduan lengkap jadwal perayaan Waisak dan hari-hari baik dalam kalender Tionghoa, kunjungi HokiTemple dan Kalender Hoki.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah Waisak dan Imlek sama-sama dirayakan oleh komunitas Tionghoa Indonesia? Tidak sepenuhnya. Waisak adalah hari suci keagamaan bagi umat Buddha, terlepas dari latar belakang etnis mereka. Orang Tionghoa yang beragama Buddha merayakan Waisak, sementara yang beragama Konghucu, Kristen, atau Islam tidak merayakannya sebagai hari suci. Imlek, di sisi lain, adalah perayaan budaya Tahun Baru yang dirayakan oleh hampir semua komunitas Tionghoa tanpa memandang agama mereka.

Mengapa prosesi Waisak di Indonesia selalu diadakan di Borobudur? Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia dan simbol paling kuat dari warisan Buddhisme di Indonesia. Memilih Borobudur sebagai pusat perayaan Waisak nasional adalah cara paling bermakna untuk menghubungkan umat Buddha Indonesia dengan sejarah panjang tradisi mereka di Nusantara, sekaligus memperkenalkan ajaran Buddha kepada dunia internasional melalui kemegahan arsitektur yang diakui UNESCO.

Bolehkah non-Buddha menghadiri perayaan Waisak di Borobudur? Sangat diperbolehkan dan disambut. Waisak di Borobudur adalah perayaan yang terbuka untuk umum. Bagian prosesi pradaksina dan pelepasan lampion bisa disaksikan oleh siapa saja yang menghormati suasana perayaan keagamaan. Namun untuk ikut serta dalam upacara inti seperti meditasi bersama dan puja bakti, biasanya diperlukan pendaftaran dan pemahaman dasar tentang tata cara Buddhist.

vesakwaisakbuddhaborobudurtradisi